Mata Dadu dan Tiga Judi Terakhir

Di pagi ketika suhu udara menyentuh 25 derajat dan kecepatan angin sekitar 3,2 km per jam, aku memutuskan untuk mati.

Sebenarnya sudah lama aku merencanakannya, sebulan? Mungkin 2 atau 3 bulan atau sepanjang tahun ini, tapi baru di hari ini, ketika angin yang bertiup dari selatan melambaikan gorden lusuh kamar kontrakanku yang bagian bawahnya berjamur inilah, aku memutuskan berani mengikrarkan sarapan roti basi ini menjadi sarapan terakhirku.

Aku meninggalkan barang berhargaku di meja kamar, kalau-kalau ibu kontrakan yang galak itu datang menagih uang kontrakan dia bisa mengambilnya, setidaknya cukup untuk membayar uang sewaku 3 bulan ini walau hutangnya 6 bulanan. Aku memakai sepatuku, termangu agak lama menatap keset lusuh bertuliskan ‘welcome’ di depan pintu. Ada rasa menggelitik aneh, mengingat keset itu akan terus bertuliskan selamat datang walau tidak pernah ada tamu selama setahunan ini, apalagi setelah ini aku juga tidak akan kembali lagi.

Ah, haruskah aku pamit dulu? Pada siapa? Aku merogoh ponselku dan menggulir daftar pesan. Tidak ada yang kuramalkan akan menjawab pesan dariku, baiklah. Tak apa.

“Ma, aku mau mati saja, kalau kau luang tolong cari mayatku dan makamkan.”

“Maaf… ma…”

***

“Whiskey, satu.”

Bar ini remang-remang, khas bar lawas yang masih menyimpan anggurnya di tong-tong kayu. Aku duduk ketika pesananku datang, bartender yang pendiam, kakek kakek berambut putih yang lanjut mengelap gelas kosong

‘Yeah, kurasa tidak ada salahnya segelas whiskey sebelum mati’

Mataku tertarik pada sebuah meja di pojok, di langit-langit meja itu tergantung satu lampu yang warnanya juga kuning keemasan yang seolah memberi sorotan khusus hanya pada meja itu. Dibaliknya duduk seorang laki-laki bertopi, tersenyum aneh padaku. Aneh, tulisan di belakang meja itu bertuliskan “Meja Waktu”

Aku mendatanginya sambil membawa gelas whiskeyku, menyemplungkan sebutir pil yang segera larut di cairan beralkohol itu. Duduk di hadapannya sambil menyesuaikan tinggiku dengan meja yang sebenarnya terlalu rendah untuk kursi bundar setinggi itu, pil
racunku mulai benar-benar larut rata tercampur di minuman kerasku.

“Selamat datang tuan, peraturannya sederhana, kau punya kesempatan tiga putaran sepanjang hidupmu, kocok dadunya dan anda bisa mendatangi masa di mana tuan berusia sebanyak jumlah mata dadu yang keluar”

Ah, ternyata penipu seperti ini masih banyak berkeliaran. Tak apalah, aku punya uang terakhirku untuk judi pertama dan terakhirku, sekaligus membayar minuman keras pertama dan terakhirku.

“Tidak perlu membayar, tuan, cukup pilih saja berapa dadu yang akan kau pilih, satu dadu berarti kau bisa kembali hingga usiamu 6 tahun, dengan dua dadu bermata 5 dan 4 anda akan kembali ke masa anda berusia 9 tahun, Silakan”

Eh? Aneh, tapi baiklah aku sembarang mengambil 2 dadu dan mengocoknya, setidak masuk akal apapun game ini tidak akan melebihi tidak masuk akalnya hidupku, dadu bening itu berputar, seiring berputarnya pita-pita kaset kenangan di kepalaku. Dua titik pada dadu berkilat terkena cahaya lampu, dua… kelas dua SMA adalah pertama kalinya aku berontak dari jalan mulus yang direncanakan orang tuaku, menolak belajar, khas kebodohan remaja. Aku berakhir pergi dari rumah.

Pada saat itu, aku hanya ingin menjadi pelukis

Sayangnya aku terlalu naif. Bagaimanapun aku sudah terlalu terpisah dari segala hal. Aku memutus hubungan dengan keluargaku, tuhanku, teman-temanku, ini mungkin terdengar berlebihan, terserahlah, sejak psikologku mendiagnosisku punya fobia sosial aku tahu semua masalahku akan bermuara ke situ.

Dadu berhenti berputar, aku tertawa kecil mengingat sejenak aku percaya bahwa judi kecil-kecilan ini bisa membawaku ke masa lalu, memperbaiki segalanya. Bukankah harusnya aku pada masa itu sadar kalau kekalahanku di banyak lomba adalah semacam pertanda kalau di masa depan aku hanya akan gagal dan ditolak kurator manapun.

Dadu sempurna berhenti, 6 6, laki-laki bertopi itu tersenyum padaku.

“Selamat menikmati perjalanan anda tuan…”

Dan setelahnya, yang kuingat hanyalah gelap.

***

Ini gila…

Satu jam yang lalu, aku terbangun di bar yang sempurna sama, hanya saja laki-laki bertopi di hadapanku menatapku datar. Sirna sudah senyum aneh dari wajahnya tadi. Gelas berisi whiskeyku hilang. Kepalaku pusing dan aku memutuskan keluar sebentar mencari udara segar

45 menit yang lalu, aku termangu, lihatlah, bukankah… bukankah nenek-nenek penjaga warung depan bar ini sudah wafat 5 tahunan yang lalu? Dan semakin aku berjalan menuju ke rumahku, yang kudapati hanya lapis demi lapis keanehan. Pohon mangga depan kontrakan yang menyusut menjadi lebih kecil, lapangan yang seharusnya sudah berganti pondasi-pondasi gedung kini masih berupa tanah becek sisa hujan.

15 menit yang lalu, aku segera berlari ke rumahku. Aku bingung, itu benar, tapi aku tidak bodoh. Ini… ini kesempatan langka

5 menit yang lalu, aku akhirnya melihat si bodoh itu, yang sedang bersedih membawa lukisan buruknya sambil berjalan pulang, memeluk sambil menunduk

1 menit yang lalu, aku berdiri di hadapannya.

Kami terdiam. Ada antusias yang membludak di dadaku, sama penuhnya dengan kebingungan yang merembes lewat mata polos itu.

Mata yang dilapisi kecewa yang melapisi api semangat membara.

“Dik… dengerin om, om adalah kamu, tapi versi dewasa, om datang buat nyelamatin kamu, kamu harus berhenti melukis, kamu harus nurut sama apa yang mama sama papa kamu pengen. Biar apa? Biar kamu sukses di masa depan, dan nggak nyesel kayak om”

“Aku suka melukis om. Mama papa boleh paksa aku buat selalu belajar biar aku jadi polisi, aku bakal nurut. Asal aku boleh tetep melukis, asal mereka nggak ngusik hobi aku. Nggak papa mereka jewer telingaku gara-gara mundur dari lomba cerdas cermat demi ikut lomba melukis yang kuikuti hari ini dan udah pasti berakhir gagal. Aku nggak papa, tapi-“

“Dik… kamu kan nggak tahu kedepannya gimana. Setelah ini, walau kamu terus melukis, kamu NGGAK akan pernah menang karena kamu emang gk berbakat. Kamu bakal coba segala cara dan gagal, berhenti aja dari melukis karena itu tuh nggak bisa bawa kamu sukses. Penghasilan nggak menentu, apalagi kamu memang tidak berbakat. Jadi lupain aja ya, melukis bikin kamu jadi pembangk — “

“Om tahu apa soal melukis? Aku bisa tahu, dari mata om aja, om bahkan udah nggak pernah lagi nyentuh kuas. Om gk tahu kalau Cuma melukis caranya aku buat ngeluapin emosiku, saat papa mama Cuma bisa ngeluh dan nuntut, dan temanku cuma kuas gara-gara aku takut sama sosialisasi. Aku Cuma bisa melukis! Om tahu apa — “

PLAK

Ah, alangkah berisiknya bocah ini. Aku merampas kanvasnya. Haha, gara-gara benda sialan ini, hidupku hancur. Aku membantingnya. Tahu apa aku? Haha, aku tahu rasanya dikucilkan, disalahkan. Sialan haha, aku tahu apa?

Anak kecil ini yang tahu apa?

***

Pemandangan terakhir yang kulihat sebelum kembali ke bar itu adalah diriku berusia 12 tahun yang tengah memungut kanvasnya yang kubuang, dia menatapku yang melangkah menjauhinya, bukan tatapan marah atau takut, tapi tatapan kasihan. Ada apa dengan tatapan itu? Apa maksudnya hah? Dia menghinaku?

Terakhir yang kulihat dia menggerakkan bibirnya samar, mengucapkan kata-kata yang angin bahkan kesulitan mendengarnya saking lirihnya.

Aku membanting pintu kayu bar itu. Aku masih punya 2 kesempatan lagi, lupakan memperbaiki masa lalu. Aku hanya bertemu remaja labil yang sangat tidak dewasa, dia hanya anak-anak yang tidak tahu apa-apa soal kerasnya kehidupan, egois dan hanya memikirkan diri sendiri. Aku bahkan malu pernah menjadi seperti itu

Lagipula apa gunanya melukis?

Aku duduk di hadapan laki-laki bertopi yang sekarang sudah tak tersenyum lagi itu, bartender masih sibuk dengan gelas whiskey kacanya, aku menatap jam yang berdetak di dinding, waktu seolah berhenti di sini. Lupakan, aku mengambil 6 buah dadu sekaligus, kalau masa lalu tidak bisa diharapkan, maka aku akan ke masa depan saja dan melihat takdirku. Haha, seharusnya sejak lama kulakukan ini. Sederhana.

Aku mengocok dan asal melempar dadunya, laki-laki itu lebih pendiam di masa lalu, tak menjelaskan apapun ataupun mengatakan selamat menikmati perjalanan atau apalah. Tak apa, tapi bagaimana kalau ternyata perjalanan ini berbahaya dan aku terjebak di antara ruang
dan waktu? Oke, itu agak menakutkan.

Hei, apa sih yang kupikirkan? Bukankah sejak awal niatku memang mati? Ya… kan?

Dan semuanya menjadi gelap. Lagi.

***

Laki-laki bertopi itu berubah menjadi pria ramah ketika aku akhirnya kembali sadar. Tersenyum aneh bercampur ramah, aku melirik dadu, angka totalnya kira-kira 50-an, aku sudah lumayan tua saat ini.

“Kali ini, waktu anda terbatas tuan, ini peraturan baru, aku minta maaf, tetapi kalau tuan tidak kembali dalam beberapa jam kesempatan dadu tuan yang tersisa akan hangus, dan anda akan terjebak di garis waktu ini”

Eh? Berarti aku tidak bisa pulang ke masaku? Aku tidak bodoh, aku tahu itu adalah keadaan yang buruk. Karena aku tidak punya identitas di sini. Setidaknya… kalau aku mati di zamanku, aku berharap setidaknya jasadku akan dipulangkan ke rumah orang tuaku, atau malah mama akan berbaik hati menjemputku. Tapi di sini?

Sedetik setelahnya, aku sudah berlari meninggalkan bar itu.

Kota ini dibangun dengan amat sangat baik beberapa tahun ini. Ketika aku keluar, malam telah tiba. Toko kelontong milik nenek depan bar ini sudah tak ada, lapangan becek tempat aku bermain bola dulu, kini sudah menjadi pusat perbelanjaan yang harum dan maju. Aku tidak terlalu memperhatikan banyak hal selain itu, terus berlari ke mana? Baiklah pertama-tama, mari kita cek kontrakanan ku dulu.

Zonk, yang kutemui hanya ibu kontrakan galak yang sebagian rambutnya sudah memutih dan lupa-lupa ingat berkata pernah melihatku. Ketika aku menanyakan soal diriku, dia hanya tak acuh bilang kalau aku sudah pindah lumayan lama pulang ke rumah orang tuaku.

Aku akhirnya menyerah dan kembali? Memalukan, kurasa aku memang tidak bisa diharapkan di garis waktu manapun.

Tapi aku harus setidaknya tahu bagaimana kabarku saat ini. Aku berterima kasih singkat dan lanjut berlari ke rumahku. Agak terdiam di jalan di mana aku beberapa menit yang lalu, atau beberapa puluh tahun yang lalu, bertemu dengan versi kecil diriku. Rasanya aneh, apa aku terlalu keras pada anak kecil itu? Si kesepian yang menyedihkan itu.

TINN

Eh? Silau. Astaga, aku hampir saja tertabrak sebuah mobil. Betapa cerobohnya aku, aku jatuh terduduk dengan kaki gemetar, syukurlah pengemudi mobil mulus nan mahal ini nampaknya adalah pengemudi ahli. Dia berhasil mengehentikan mobil ketika bagian depannya menyentuh telapak tanganku yang refleks melindungi diri. Cahaya lampu sorot dari mobil menyiram tubuh berdebuku.

Pemilik mobil itu panik keluar dan menemuiku

“Astaga, maafkan aku, kau tidak apa?”

Eh?

***

“Begitulah, ini putaran keduaku. Syukurlah orang pertama yang kutemui adalah kamu, eh diriku sendiri”

1 jam setelahnya, aku sudah duduk di jok mobil mahal itu dengan segelas teh hangat di genggamanku. Siapa yang menyangka? Hanya butuh beberapa belas tahun, hidupku bagai ikan kecil yang mendapat potongan sayap malaikat dan terbang ke langit, menjadi burung bebas yang selalu kuimpikan. Satu jam terakhir, dia nampak tak terlalu kaget dengan ceritaku, walau tetap bingung karena merasa tidak pernah bertemu denganku sewaktu kecil. Hipotesis kasarku, ada aturan yang otomatis berlaku dan menghapus ingatanku dari si kecil itu. Syukurlah, setidaknya aku tidak perlu merasa bersalah.

“Sekarang beritahukan padaku, apa… apa cara yang kau lakukan untuk sukses? Kegagalan apa yang kau lakukan agar bisa kuhindari? Singkat kata… beritahukan aku jalan pintas untuk sukses sepertimu”

Namun diriku berusia 50 tahunan itu hanya terdiam

“Aku tidak akan memberi tahumu”

Eh?

“Kau mungkin akan kecewa dengan jawabannya, tapi, tapi itulah jawabanku, aku tidak akan memberitahumu bagaimana caraku untuk sukses, bahkan tidak dengan profesiku saat ini. Hei, dengar, aku tahu kau emosi, tapi ini sama sekali bukan seperti yang kau pikirkan. Dengar, pertama-tama kau harus mulai dengan percaya.”

Apa-apaan?

“Kau hanya perlu menjalaninya, percayalah, setidaknya pada dirimu. Kau bahkan tidak percaya pada dirimu masa kecil, begitu pula dengan diriku dan dirimu. Walaupun kita sebenarnya hanya satu orang yang sama. Setelah percaya, kau bisa mulai jujur pada segala hal. Kau tak akan bisa melalui kegagalan di depanmu saat kau bahkan tidak jujur pada
dirimu, tidak percaya pada siapa— “

“Ah, berisik sekali… jadi ini, perkataan dari seseorang yang sudah sukses dan lupa pada masa sulitnya ya? Menyebalkan”

Aku menatapnya tajam, sialan percuma saja semua perjalanan waktu ini. Tidak ada gunanya. Bahkan diriku sendiri tidak mau menolongku. Aku membuka pintu mobil, berniat kembali ke bar dan pulang, tapi dia memegang tanganku

“Kau tahu kenapa dirimu kecil menolak permintaanmu? Karena dia tahu kau telah kehilangan sesuatu dari dirimu, jujurlah, dan kau akan melihat alasan kenapa ia tetap memilih untuk tidak berhenti walau tahu akan gagal berkali-kali, karena dia tahu kalau dia berhenti saat itu, maka harapanmu untuk kembali merasakan hal yang sudah lama kau rindukan akan hilang. Dia tahu hanya dari matamu, dia tahu kau rindu dengan segalanya. Tidak ada yang namanya memperbaiki masa lalu atau masa depan atau apalah itu. Yang ada hanya dirimu, saat ini, masa kini”

Aku menghempaskan tangannya, waktuku hampir habis, lupakan saja percakapan sia-
sia ini.

Aku berlari meninggalkannya, langit mendung mulai merintikkan airnya. Ini semua menyakitkan sekaligus menyebalkan. Sungguh.

Tuhan…

***

Kocokan dadu menunjukkan angka 26. Sempurna. Laki-laki bertopi itu tersenyum padaku, seperti biasa, tapi kali ini, eh ada yang aneh dengan senyumnya.

“Ada satu hal yang harus kukatakan sebelum anda pergi tuan. Tidak ada yang pernah menjamin bahwa anda akan kembali di menit dan jam yang anda harapkan. Bisa, dan sangat mungkin terjadi anda justru mendarat di masa sebelum anda melakukan perjalanan waktu, yang berarti tetap akan ada dua anda di masa itu”

“Ck, oke itu mungkin itu benar, tapi aku tidak masalah dengan itu. Toh aku tinggal menunggu sampai dia melakukan perjalanan waktu, lalu aku bisa hidup sebagaimana mestinya kan”

“Sayangnya tidak. Maaf jika versi lama diriku tidak memberi tahumu, tapi ada peraturan di meja waktu ini, yang jikalau anda tidak mendarat tepat di menit ketika raga anda meninggalkan garis waktu itu dan melakukan perjalanan waktu, anda akan dieliminasi. Singkat kata, jika anda memulai perjalanan waktu pukul 7 malam, anda harus sangat beruntung untuk mendarat pada pukul 7-8 malam waktu itu. Jika tidak, ketika anda di masa itu mulai melakukan perjalanan waktu. Anda mendapat penalti dan dieliminasi”

“Hah? Apa maksud-“

Semuanya mulai menggelap.

***

Aku berlari menuju ke kontrakanku. Sial, situasinya kenapa jadi rumit begini? Aku teringat apa yang dikatakan laki-laki bertopi menyebalkan itu.

“Aku tahu kau bingung, singkat kata, saat ini kau mendarat tepat satu jam sebelum dirimu di masa ini melakukan perjalanan waktu. Satu-satunya cara agar kau tidak terkena penalti dan tereliminasi adalah mencegah dirimu di masa ini untuk melakukan perjalanan waktu. Itu akan merestart dan kau akan otomatis dikembalikan di garis waktu kau seharusnya berada”

Aku membuka pintu kontrakan jelek itu, tepat ketika diriku di masa itu membuka pintu.

“DENGAR! Kau harus berhenti, kau tidak boleh pergi dari rumah ini. Atau, ah, semuanya akan menjadi rumit. Aku adalah dirimu dari masa depan, kumohon, kau tidak akan percaya kalau mendengar ceritaku, yang jelas kau sama sekali tidak boleh melangkahkan kaki dari rumah ini. Lupakan saja semua rencana bunuh dirimu itu”

Sebagai balasannya, diriku di masa ini memanggil polisi. Matanya tetap menatapku dan mulai berkata.

“Kenapa? Kalau kau adalah aku bukankah seharusnya kau tahu perasaanku? Kenapa mencegahku, dan wow, kau takut mati hey? Apa kau benar-benar aku? Yang saat ini bahkan mendambakan kematian?”

“Karena… karena kau… kau harus percaya, dan juga jujur, dan pada siapapun, ah aku juga tidak tahu sialan! Aku hanya ingat apa yang dikatakan diri kita dari masa depan. Bahwa… bahwa kau pasti akan berhasil, ya, kau akan sukses di masa depan, jadi jangan mati. Kau tidak benar-benar ingin mati. Cobalah jujur, percaya. Ah entahlah aku juga tidak tahu!”

“Hei, tenanglah. Begini saja. Kita buat sederhana, kita sama-sama tahu kalau kita tidak bodoh kan? Berikan saja aku satu alasan, atau bukti, kalau aku sebenarnya tidak harus dan benar-benar ingin mati”

Eh. Aku terdiam. Astaga, waktuku terbatas sebelum polisi datang. Ayo berpikirlah, kenapa aku harus hidup? Untuk sukses? Untuk kembali melukis? Untuk apa semua itu kalau aku tetap saja sendiri, terpisah dari dunia ini?

“Karena kata-kata aku ingin mati… adalah SOS dari orang yang ingin hidup. Aku…aku juga ragu, tapi aku akan berusaha percaya, bahwa… lihatlah ponselmu, kurang dari satu jam lagi, mama akan menghubungi dan mencarimu. Apa jaminannya? Tidak ada. Aku… aku hanya percaya padanya. Aku percaya bahwa dia tidak akan meninggalkan kita. Sebagai balasannya, kalau itu benar, kau harus berjanji padaku untuk mulai percaya, dan jujur. Padaku, pada dirimu sendiri… ya?”

Polisi datang, tanpa ba bi bu memborgolku dan menyeretku pergi dari sana. Meninggalkannya yang menatap lamat-lamat ponsel yang masih membuka roomchat dengan mama.

***

Pintu sel dikunci oleh polisi, aku duduk di pojokan lantai yang dingin, menatap jam. Hampir satu jam berlalu, bagaimana selanjutnya? Entahlah. Ini terlalu mustahil untuk diingat-ingat lagi

Perlahan tubuhku mulai mengabur, pandanganku menggelap. Ini lucu, apakah aku berhasil? Apa proses pengembalianku ke masa di mana aku seharusnya berada sudah dimulai? Atau jangan-jangan, ini adalah proses eliminasi dan aku akan segera mati?

Aku menutup mata, harusnya aku khawatir, tapi biarlah, aku percaya padanya.

Aku percaya pada diriku.

Dan semuanya menjadi gelap.

***

Written by: Miftahul Hamidah